ust handy bonny mengisi pengajian di Mujonta

SD Mujonta Gelar Pengajian Syawalan 1447 H, Joglo Baiti Jannati Dipenuhi Ribuan Jamaah.

YOGYAKARTA – Suasana hangat dan penuh semangat menyelimuti Joglo Baiti Jannati, Kampus 2 SD Muhammadiyah Jogokariyan Yogyakarta (Mujonta) pada Sabtu (4/4/2026). Ribuan jamaah yang terdiri dari wali murid, tokoh masyarakat, serta Guru dan Tenaga Kependidikan (GTK) berkumpul dalam acara Pengajian & Syawalan Keluarga Besar SD Mujonta.

Acara yang bertepatan dengan 16 Syawwal 1447 H ini menjadi sangat spesial dengan kehadiran pendakwah nasional, Ust. Handy Bonny. Dengan gaya bicaranya yang santun namun lugas, beliau menyampaikan pesan mendalam mengenai penguatan karakter anak sejak dini.

Kolaborasi dan Sinergi Pendidikan

Kegiatan yang bertema “Menyatukan Hati, Memperkuat Silaturahmi dan Menumbuhkan Karakter Sejak Dini” ini merupakan hasil kolaborasi apik antara pihak sekolah dan Wali Murid Kelas 2.

Kemeriahan acara sudah terasa sejak sesi pra-acara yang menampilkan grup hadroh siswa kelas 4B. Ke khidmatan semakin bertambah saat siswa kelas 2 tampil ke depan memimpin tadarus Al-Qur’an, menunjukkan hasil nyata dari pendidikan karakter yang diterapkan di SD Mujonta.

Sejumlah tokoh pendidikan dan organisasi turut hadir memberikan sambutan, antara lain:

  • Deny Ismanto, S.E., M.M. (Ketua Komite SD Mujonta)
  • Dra. Tyasning Handayani Shanti (Dindikpora Kota Yogyakarta)
  • Surahmat An-Nashih, S.Ag., M.S.I. (Ketua PCM Mantrijeron)
  • Budi Santosa Asrori, SE., M.Si. (Kepala Dindikpora Kota Yogyakarta)
  • Drs. H. Akhid Widi Rahmanto (Ketua I PDM Kota Yogyakarta)

Pesan Ust. Handy Bonny: Dunia Adalah “Puasa yang Panjang”

Dalam tausiyahnya, Ust. Handy Bonny mengajak jamaah untuk memaknai hidup sebagai sebuah perjalanan menahan diri. Beliau mengibaratkan kehidupan dunia layaknya “puasa yang panjang”, di mana seorang mukmin harus konsisten menahan nafsu dan kemaksiatan.

“Kapan kita berbuka? Kita baru akan berbuka saat telapak kaki kita menyentuh surga-Nya Allah SWT. Maka bagi orang beriman, setiap perintah dan seruan Allah bukanlah beban, melainkan seruan kebahagiaan,” ujar Ust. Handy Bonny.

Beliau juga menekankan pentingnya tiga prinsip dalam beramal: Dasar (Tauhid), Sadar (Taubat), dan Sabar dalam konsistensi amal sholeh. Menurutnya, perjuangan dan pengorbanan dalam ketaatan mungkin tidak langsung terlihat hasilnya sekarang, namun akan menjadi balasan yang indah saat manusia kembali ke hadirat-Nya.

Sekolah dan Rumah: Sinergi Mencetak Murid

Ust. Handy Bonny mengingatkan para orang tua bahwa tugas mendidik tidak boleh sepenuhnya dititipkan kepada sekolah. Sekolah hadir sebagai fasilitator agar anak bisa Makrifatullah (mengenal Allah), namun pembiasaan di rumah adalah kuncinya.

“Secara bahasa, ‘Murid’ adalah seseorang yang ingin mendekat kepada Allah. Maka tujuan sekolah dan rumah harus sama: membuat anak kenal, cinta, lalu patuh kepada Allah SWT,” tambahnya.

Beliau juga membagikan tips praktis dalam membangun keluarga berlandaskan prinsip tauhid, yang mencakup tiga aspek:

  1. Ibadah: Suami-istri harus saling semangat beramal soleh.
  2. Tarbiyah: Saling mengingatkan dan menguatkan di jalan Allah.
  3. Dakwah: Bersama-sama mencetak generasi terbaik.

Sebagai penutup, jamaah diajak merenungkan syarat taubat yang disingkat dalam lima langkah: Sadari, Sesali, Sudahi, Perbaiki, dan Dakwahi.

Doa Bersama dan Dukungan untuk Murid Kelas 6

Puncak acara ditutup dengan sesi doa bersama yang berlangsung khidmat. Selain memohon ampunan dan keberkahan keluarga sesuai tuntunan Nabi Ibrahim AS dalam QS. Al-Baqarah: 128, jamaah secara khusus memanjatkan doa untuk murid kelas 6 SD Mujonta.

Seluruh hadirin mendoakan agar para siswa kelas 6 diberikan kemudahan, kelancaran, serta hasil yang terbaik dalam menghadapi Ujian TKA Nasional yang akan datang. Suasana haru menyelimuti Joglo Baiti Jannati saat Ust. Handy Bonny memimpin doa agar anak-anak tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga tetap teguh dalam iman dan akhlak mulia saat menempuh ujian tersebut.

Acara pun diakhiri dengan mushofahah (bersalam-salaman) sebagai simbol kuatnya silaturahmi keluarga besar SD Muhammadiyah Jogokariyan Yogyakarta.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *