Prof. Suyanto, M.Ed., Ph.D. menjelaskan pentingnya membangun budaya belajar yang didasarkan pada ekspektasi positif guru terhadap siswa

Workshop Pendidikan di SD Muhammadiyah Jogokariyan Kampus 2 Tekankan Growth Mindset dan Pendidikan Karakter

Yogyakarta – SD Muhammadiyah Jogokariyan Kampus 2 menyelenggarakan workshop pengembangan kompetensi guru pada Rabu (8/7/2026). Kegiatan yang diikuti seluruh guru SD Muhammadiyah Jogokariyan ini menghadirkan Prof. Suyanto, M.Ed., Ph.D., Ketua Dewan Pendidikan Nasional, Ketua Majelis Wali Amanat (MWA) Universitas Negeri Yogyakarta, serta Dewan Pakar Majelis Pendidikan Dasar, Menengah, dan Pendidikan Nonformal Pimpinan Pusat Muhammadiyah Masa Jabatan 2022–2027, sebagai narasumber utama.

Workshop ini menjadi bagian dari upaya sekolah dalam meningkatkan kompetensi pendidik sekaligus memperkuat pemahaman mengenai strategi pembelajaran yang mampu mengembangkan potensi akademik dan karakter peserta didik secara seimbang.

Dalam pemaparannya, Prof. Suyanto menjelaskan pentingnya membangun budaya belajar yang didasarkan pada ekspektasi positif guru terhadap siswa. Ia mengulas konsep Pygmalion Effect dan Self-Fulfilling Prophecy, yaitu teori yang menunjukkan bahwa harapan positif seorang guru dapat memengaruhi motivasi, perilaku, hingga prestasi belajar peserta didik.

Harapan yang diberikan guru kepada siswa akan sangat menentukan bagaimana siswa memandang dirinya. Ketika guru percaya bahwa setiap anak mampu berkembang, kepercayaan itu akan menjadi energi yang mendorong mereka untuk terus belajar dan mencapai hasil terbaiknya,” ujar Prof. Suyanto.

Selain itu, Prof. Suyanto juga menjelaskan hubungan antara tingkat kecemasan dengan prestasi belajar. Menurutnya, tantangan dalam pembelajaran tetap diperlukan untuk mendorong perkembangan kemampuan siswa. Namun, tantangan tersebut harus berada pada tingkat yang sesuai agar tidak berubah menjadi tekanan yang justru menghambat proses belajar.

Karena itu, guru perlu merancang pembelajaran yang memberikan tantangan secara proporsional. Dengan demikian, peserta didik terdorong untuk berpikir kritis, kreatif, dan berani menyelesaikan permasalahan tanpa mengalami tekanan psikologis yang berlebihan.

Materi workshop juga mengangkat pentingnya pendidikan karakter sebagai fondasi keberhasilan siswa. Prof. Suyanto menjelaskan bahwa karakter yang perlu dikembangkan di sekolah mencakup dua aspek, yakni moral character dan performance character.

Moral character berkaitan dengan nilai-nilai moral, seperti kejujuran, kemampuan membedakan benar dan salah, serta sikap bertanggung jawab. Sementara itu, performance character menekankan pembentukan kebiasaan positif yang mendukung keberhasilan, seperti disiplin, kerja keras, tanggung jawab, ketepatan waktu, dan semangat untuk terus berkembang.

Menurutnya, sekolah juga harus menjadi ruang yang aman bagi siswa untuk belajar dari kegagalan.

Sekolah harus menjadi tempat yang membuat anak tidak takut gagal. Ketika anak takut gagal, mereka cenderung mencari jalan pintas, bahkan melakukan ketidakjujuran. Sebaliknya, jika kegagalan dipandang sebagai bagian dari proses belajar, mereka akan tumbuh menjadi pribadi yang berani mencoba, mampu mengevaluasi diri, dan terus berkembang,” jelasnya.

Pada kesempatan tersebut, Prof. Suyanto turut mengajak para guru untuk menumbuhkan growth mindset pada peserta didik. Ia membandingkan karakteristik growth mindset dengan fixed mindset sebagai dasar dalam membangun budaya belajar di sekolah.

Seseorang yang memiliki fixed mindset cenderung menghindari tantangan, mudah menyerah ketika menghadapi kesulitan, menganggap kritik sebagai serangan pribadi, serta memandang keberhasilan orang lain sebagai ancaman. Sebaliknya, individu dengan growth mindset melihat tantangan sebagai kesempatan untuk belajar, menghargai proses dan usaha, menerima kritik sebagai bahan perbaikan, serta menjadikan keberhasilan orang lain sebagai inspirasi.

Menutup sesi workshop, Prof. Suyanto mengingatkan bahwa tugas guru bukan hanya mengajarkan materi pelajaran, tetapi juga membangun keyakinan dalam diri setiap peserta didik bahwa mereka memiliki kemampuan untuk terus berkembang.

Pendidikan yang baik bukan sekadar menghasilkan siswa yang pintar, tetapi juga membentuk pribadi yang jujur, tangguh, memiliki karakter kuat, dan tidak pernah berhenti belajar sepanjang hayat,” pungkasnya.

Melalui workshop ini, SD Muhammadiyah Jogokariyan Kampus 2 berharap seluruh guru semakin siap menciptakan lingkungan belajar yang positif, menantang, dan aman secara psikologis sehingga mampu melahirkan generasi yang berprestasi sekaligus berkarakter sesuai dengan nilai-nilai Islam dan Muhammadiyah.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *