pengajian bulanan bersama Bunda Wening SD Mujonta

“Mendidik Anak adalah Kerja Sama, Bukan Serah Terima”, Pesan Bunda Wening dalam Kajian SD Muhammadiyah Jogokariyan

Yogyakarta — SD Muhammadiyah Jogokariyan menyelenggarakan Kajian Bulanan dengan tema “Mendidik Anak adalah Kerja Sama, Bukan Serah Terima” pada Sabtu, 1 Agustus 2026 M/18 Safar 1448 H. Kegiatan yang berlangsung di Masjid Quwwatul Islam, Jl. Mataram No. 2, Suryatmajan, Kota Yogyakarta, tersebut diikuti oleh guru dan tenaga kependidikan (GTK) serta wali murid.

Kajian ini menjadi bagian dari ikhtiar bersama sekolah dan keluarga dalam menunaikan amanah mendidik putra-putri agar tumbuh menjadi pribadi yang mandiri, bertanggung jawab, dan memiliki karakter yang kuat.

Kajian menghadirkan Bunda Wening, seorang trainer, konselor, sekaligus penulis buku, sebagai pemateri. Kegiatan diawali dengan sambutan Kepala SD Muhammadiyah Jogokariyan, Fika Widiana Kuspratiwi, M.Pd.

Tiga Tahapan dalam Mengasuh dan Mendidik Anak

Dalam kajiannya, Bunda Wening menjelaskan bahwa pola pengasuhan anak perlu disesuaikan dengan tahapan perkembangan usia. Ia membagi proses tersebut menjadi tiga fase, yaitu usia 0–7 tahun, 7–14 tahun, dan 14–21 tahun.

Pada usia 0–7 tahun, anak dianalogikan sebagai “raja”. Fase ini merupakan masa eksplorasi ketika anak banyak belajar melalui pengalaman dan lingkungan di sekitarnya. Menurut Bunda Wening, orang tua tidak berarti harus selalu menuruti semua keinginan anak, tetapi perlu memahami bahwa aktivitas anak yang terkadang dianggap berantakan oleh orang dewasa dapat menjadi bagian dari proses belajar.

Memasuki usia 7–14 tahun, anak dianalogikan sebagai “prajurit”. Pada fase ini, orang tua mulai mengenalkan tanggung jawab, aturan, serta kewajiban yang perlu dijalankan oleh anak. Ketika kewajiban tersebut tidak dilaksanakan, anak perlu memahami adanya konsekuensi sebagai bagian dari proses pembentukan kedisiplinan dan tanggung jawab.

Sementara itu, pada usia 14–21 tahun, anak mulai diposisikan sebagai “sahabat”. Orang tua diharapkan dapat membangun hubungan yang lebih terbuka dengan anak, tidak mudah terjebak dalam pertengkaran, serta memperbanyak komunikasi mengenai kehidupan dan masa depan.

“Pada usia ini, jangan terlalu banyak bertengkar dengan anak. Perbanyak ngobrol tentang masa depan, harus kompak, dan banyak nilai yang kita transfer,” jelas Bunda Wening.

Pekerjaan Rumah sebagai Sarana Membangun Karakter

Bunda Wening juga menyoroti pentingnya melibatkan anak dalam pekerjaan rumah. Ia mengungkapkan bahwa keberhasilan seseorang tidak hanya ditentukan oleh pencapaian akademik, tetapi juga oleh kemampuan bertanggung jawab dan mandiri.

Ia mengaitkan hal tersebut dengan penelitian jangka panjang dari Harvard yang mengamati kehidupan manusia selama puluhan tahun. Salah satu hal yang berkaitan dengan keberhasilan seseorang adalah keterlibatannya dalam mengerjakan pekerjaan rumah sejak kecil.

Menurutnya, pekerjaan rumah dapat menjadi sarana bagi anak untuk belajar bertanggung jawab, mandiri, dan memiliki daya juang. Meskipun terkadang terasa melelahkan, proses tersebut justru dapat membantu membentuk karakter yang tangguh.

“Kadang kita berpikir kalau ingin sukses harus selalu belajar akademis. Padahal, dengan mengerjakan pekerjaan rumah, anak belajar memiliki rasa tanggung jawab dan kemandirian,” ungkapnya.

Menasihati Generasi Alpha dengan Pendekatan yang Masuk Akal

Dalam kesempatan tersebut, Bunda Wening juga mengingatkan orang tua agar memahami karakter anak-anak generasi Alpha yang tumbuh dengan akses informasi dan stimulasi yang jauh lebih besar dibandingkan generasi sebelumnya.

Anak-anak generasi Alpha cenderung lebih kritis dan banyak mempertanyakan alasan di balik sebuah aturan. Karena itu, nasihat kepada anak perlu disampaikan dengan alasan yang dapat dipahami dan masuk akal.

Ia memberikan contoh ketika orang tua melarang anak bermain hujan dengan mengatakan bahwa bermain hujan dapat menyebabkan sakit. Bagi anak yang berpikir kritis, pernyataan tersebut dapat menimbulkan pertanyaan karena hujan sama-sama berupa air, sementara mereka juga menggunakan air untuk mandi.

Contoh tersebut menunjukkan bahwa orang tua perlu memberikan penjelasan yang dapat diterima oleh cara berpikir anak, bukan sekadar memberikan larangan.

Kajian Bulanan SD Muhammadiyah Jogokariyan ini diharapkan dapat memperkuat sinergi antara sekolah dan keluarga. Pendidikan anak tidak berhenti di lingkungan sekolah, melainkan merupakan proses bersama yang membutuhkan komunikasi, keteladanan, dan kerja sama antara guru dan orang tua.

Melalui tema “Mendidik Anak adalah Kerja Sama, Bukan Serah Terima”, SD Muhammadiyah Jogokariyan menegaskan bahwa keberhasilan pendidikan anak merupakan tanggung jawab bersama. Sekolah dan keluarga perlu berjalan beriringan untuk mendampingi anak tumbuh sesuai dengan tahap perkembangannya serta menjadi pribadi yang berkarakter, mandiri, dan bertanggung jawab.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *